Posted by: Dost | February 14, 2010

jadikanlah cahaya untukku

Ya ALlah jadikanlah cahaya dalam hatiku,
cahaya pada lisanku,
cahaya pada pendengaranku,
cahaya pada pengelihatanku,
cahaya di atasku,
cahaya di bawahku,
cahaya di kananku,
cahaya di kiriku,
cahaya di depanku,
cahaya di belakangku,

jadikanlah di dalam diriku cahaya,
besarkanlah untukku cahayanya,
besarkanlah cahayaku,
ya ALlah besarkanlah cahayaku,

jadikanlah pada otaku cahaya,
jadikanlah dalam dagingku cahaya,
dalam darahku cahaya,
dalam rambutku cahaya, dan
dalam kulitku cahaya.

(H.R.Bukhari- Muslim, doa menuju masjid)

Posted by: Dost | September 8, 2009

YANG FANA ADALAH WAKTU

Yang fana adalah waktu.
Kita abadi:

memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.

“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.

Kita abadi.

oleh : Sapadi Djoko Damono

Ketika kita dilahirkan maka sejak itulah kita akan selalu ada dan kekal. Adapaun waktu adalah parameter dan variabel yang lahir akibat peredaran “matahari terhadap bumi”. Jika bumi – matahari hancur maka berhenti dan fanalah waktu. Dahsyat nian puisi Sapardi Djoko Damono. Banyak ayat menjelasakan akan keabadian dan kekekalan kita di alam akhirat kelak. Setiap diri akan mempertanggungjawabkan amal di sana. Adapun penjelasan mengenai waktu, salah satunya dalam ayat-ayat “demi masa”.

Posted by: Dost | September 8, 2009

Darah Juang

Darah Juang adalah lagu perjuangan mahasiswa Indonesia yang lahir di era reformasi sejak menjelang jatuhnya Orde Baru.  Lagu ini sering dinyanyikan hampir dalam setiap demonstrasi mahasiswa di seluruh Indonesia. Bagi penulis lagu ini cukup menginspirasi dan membangkitkan motivasi untuk selalu belajar mengorientasikan langkah dan karya demi kesejahteraan, kebahagiaan diri dan masyarakat sekitar. Senada dengan sebagian pesan yang tersirat dalam Al-Maun yang menjadi visi dan ruh gerak organisasi islam terbesar di dunia (Muhammadiyah). Senada juga dengan puisi Bangkit (Dedi Muizwar), puisi Kemana (Cak Nun), dan senada dengan semangat yang hendaknya selalu kita jaga dalam dada.  Semangat memberi, semangat mengabdi.

Pada siapa ?

Silakanmasing-masing diri mennetukan, kepada siapa diri ini dihibahkan, kepada siapa langkah dan karya didedikasikan.

Berikut lirik Syair Darah Juang ( John Sonny Tobing, F.Fil.UGM, 1990-an)

Di sini negeri kami
tempat padi terhampar luas
samuderanya kaya raya
tanah kami subur, Tuhan.

Di negeri permai ini
berjuta rakyat bersimbah luka
anak kurus tak sekolah
pemuda desa tak kerja

Mereka dirampas haknya
tergusur dan lapar

Bunda, relakan darah juang kami
tuk membebaskan rakyat

padamu kami berjanji
padamu kami berbakti

tuk membebaskan rakyat

Posted by: Dost | July 31, 2009

Seperti OZON,

oleh : Putubuyut Alikastama

aku duduk di depan cermin kaca
aku tersenyum,wajah di sanapun juga

Aku bingung . . .
tentu bukan karena bingung melihat bingung wajah di sana

aku melihat aku
seperti halnya mereka
aku hanya melihat wajahku
tidak tahi lalat di punggungku

siapa aku ?

aku seperti halnya kalian dan mereka
adalah rangakain perbuatan
bukan rangkaian kata
aku adalah apa yang telah aku lakukan

maka berbuatlah

jadilah gunung dan suburkan negeri ini
jadilah angin beredarlah dan segarkan jiwa-jiwa
jadilah OZON lindungi bumi ini

wahai gunung meletuslah
runtuhkan kesombongan kibaran-kibaran bendera dipuncakmu

wahai angin berpilinlah
prakporandakan fitnah, nafas-nafas dengki dan nafas kebencian

wahai OZON diamlah …
dan tidak perlu jadi munafik

kini wajah dicermin itu tampak bingung melihatku
dan tentu aku semakin bingung

aku bukan gunung
aku bukan angin
aku bukan OZON

tidak bisa meletus
tidak bisa berhembus
dan aku tidak mungkin hanya diam

maka aku berbuatlah
bukan untuk mengibar bendera di sana

maka aku pun berbuat
dengan tidak merangkai mengalun kata fitnah

maka aku beredarlah
menebar senyum, sejuk segar seperti OZON

aku reguk air sejuk di gelas hijau ini
sambil tersenyum melihat wajah di sana

aku belum jenuh bercermin
mari teman reguk airmu juga, segarkan jiwa

segarkan bumi
seperti OZON,
seperti daun yang hijau
dan seperti air yang bening

engkau bukan daun
engkau bukan air
dan tentu bukan pula OZON
dan jangan hanya terkesima melihat wajah di cermin-cerminmu

Posted by: Dost | May 29, 2009

ini tentang tivi

oleh : Putubuyut Alikastama

bisik kertas pada debu
tentang bengkak mata anak manusia

kertas-kertas itu rindu
pada ujung-ujung pensil dan lentur jemarinya

kertas-kertas itu sepi dan merana
dipisahkan dari ingus dan sesekali tetes air mata

aku dimadu bahkan dicampakkan
aku meraung di sudut kamarnya
kerandakan aku . . . rintihnya

Posted by: Dost | May 29, 2009

merenungkan senja

oleh : Putubuyut Alikastama

mega terhuyung di ufuk senja
menerawang gundah capung
hinggap singgah di ujung bunga terompet

pematang jalan ini sungguh panjang
terlalu panjang di kala sepi
panjang sungguh untuk sepasang tapak kaki

sejuk semilir angin senja
menukik lembut menyusup dibalik baju dan sela-sela rambutku
membuai dan melenakan

jalan ini masih senja dan terlalu nyaman

burung emprit berkikit berdecit
terbang berayun mencari batang untuk hinggap
capung-capung melompat beringsut-ingsut di ujung bunga terompet

dan di jalan ini masih sendiri
sunyi sesempurna senja

Posted by: Dost | May 2, 2009

KERABAT KITA

oleh : STA

Bunda,
masih kudengar petuamu bergetar
waktu ku tertegun di ambang pintu,
melepaskan diriku dari pelikmu :
“Hati-hati di rantau orang, anakku sayang,
Berkata di bawah-bawah, mandi di hilir-hilir,
Di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung”.
Telah lama aku mengembara :
jauh rantau kejelajah,
banyak selat dan sungai kuseberangi,
gunung dan gurun kuedari.
Beragam warna, bahasa dan budaya manusia,
teman aku bersantap, bercengkerama dan bercumbu,
lawan aku bertengkar dan berselisih.
Di runtuhan Harapan dan Pompeyi aku ziarah,
Dari menara Eifel dan Empire State Building
aku tafakur memandang semut manusia.
Di pembajaan Ruhr dan Nagasaki
aku bangga melihat kesanggupan umat
berpikir, mengatur dan berbuat.
Kuhanyutkan diriku dalam lautan manusia
di Time Square di New York dan di Piccadily di London.
Kuresapkan lagu kesepian pengendara unta
di gurun pasir dan batu Anatolia,
sega Islandia yang megah di padang salju yang putih.

Bunda,
Pulang dari rantau yang jauh
berita girang kubawa kepadamu,
resap renungan petua keramat,
sendu engkau bisikkan di ambang pintu :
Di mana-mana aku menjejakkan kaki,
aku berjejak di bumi yang satu.
Dan langit yang kunjung
di mana-mana langit kita yang esa.

Bunda,
Alangkah luasnya dan dahsyatnya kerabat kita
kaya budi kaya hati,
pusparagam ciptaan dan dambaan.

Posted by: Dost | May 1, 2009

hati-hati dengan riya’

Pembaca sekalian, gerakan hati memang gerakan yang amat sulit diterka ke mana arahnya. Terkadang kita mengira bahwa kita sudah berbuat sebaik-baik dan seikhlas-ikhlasnya, namun indikasi keadaan kita menunjukkan sebaliknya. Seorang yang senantiasa melihat dan mengamati gerakan hati, kemanakah niat hendak ditujukan berarti Alloh telah mengaruniai kepadanya nikmat yang luar biasa. Hal itu karena gerakan hati samar dan kadang bisa menipu pemiliknya.

Kaum muslimin sekalian, di kisahkan ada seseorang yang kebiasaannya selalu shalat berjamaah di shof pertama. Selama tenggang waktu yang lama dia menuyangka dia telah berbuat ikhlas dalam ibadah dan telah manjalankan perintahuntuk berlomba-lomba berada di shof pertama. Namun suatu saat, ia mengerjakan shalat jamaah tidak di shaf pertama. Maka ia merasa malu ketika itu. Yang sangat aneh rasa malu itu timbul terhadap orang-orang di sekitar bukan kepada Alloh swt. Hal tersebut karena ia terbiasa di shaf pertama dan orang-orang menyaksikannya, kemudian baru kali ini ia shalat bukan di shof pertama dan orang-orang pun menyaksikannya. Kaum muslimin sekalian, seharusnya jika memang niatnya lurus, maka ia tidak akan malu kepada manusia, karena shalat dan memilih shof pertama bukanlah ditujukan untuk manusia, tetapi untuk pencipta manusia, Alloh ta’ala. Maka sadarlah sekarang bahwa shalatnya di shaf pertama selama ini bukan karena Alloh semata melainkan karena pandangan orang-orang.

Maka sadarilah, salah satu penyakit hati yang berbahaya adalah riya’. Karena riya’ bukanlah penyakit dzohir yang dideteksi dengan alat kedokteran, namun penyakit yang amat tersamar. Permisalan lain adalah ketika seseorang telah terbiasa beramal memberikan infak / sedekah dan ia telah merasa ikhlas, namun di kemudian hari ia tidak berinfak dan orang-orang melihat lalu ia malu, maka itu adalah salah satu tanda agar orang tersebut harus lebih memperhatikan dan mengatur hatinya.

Hakikat tauhid adalah keikhlasan kepada Alloh ta’ala. Adapun yang menjadi kawan dari ikhlas adalah riya’. Secara tidak sadar seseorang bisa saja melakukan amalan karena ingin diperhatikan orang lain. Padahal hal tersebut adalah kesiasiaan karena amalan tersebut dilakukan karena riya’. Riya’ adalah memperlihatkan amalah agar mendapat pujian, termasuk didalamnya adalah memperdengarkan amalan agar mendapat pujian. Padahal Alloh hanya meneriama satu amalan yang memenuhi dua syarat yaitu ikhlas dan ittiba’ (sesuai tuntunan rosululloh sholallohu ‘alaihi was salam). Kedua sayarat tersebut harus dipenuhi tidak boleh terpisah satu sama lain.

“… barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (al-kahfi 110). Inilah salah salah satu dalil bahwa ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amal. Maka barang siapa yang takut akan hari ia bertemu dengan Alloh dan siapa saja yang sangat mengharapkan rahmat Alloh maka ia harus memurnikan seluruh amal ibadahnya hanya kepada Alloh dan mengikuti tuntunan nabi sholalohu ’alaihi wasalam dalam seluruh ibadah. Alloh juga berfirman yang artinya, “ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus. (al-bayinah : 5)

Suatu ketika Rosululloh berkata kepada para sahabanya,” maukah engkau kuberitahukan tentang suatu yang lebih kuakutkan daripada al masih ad dajjal ? para sahabat menjawab “ya”. Rosululloh bersabda, “itu adalah syirik yang samar. Yaitu seseorang sholat kemudian memperbagus shalatnya karena dilihat orang lain.” (hr.ahmad. dihasankan oleh syaikh al albani)

Di antara kasih sayang beliau kepada umatnya ialah memperingatkan umat ini dari segala bentuk fitnah. Adapun fitnah terbesar sepanjang masa di atas muka bumi ini adalah fitnah dajjal. Akan tetapi fitnah syirik yang samar ini lebih beliau takutkan menimpa umatnya daripada fitnah dajjal. Fitnah dajjal ini akan muncul di akhir zaman kelak ketika kiamat sudah sangat dekat. Hal ini karena memurnikan ibadah hanya karena Alloh swt bukan pekerjaan enteng. Apalagi jika berkenaan dengan hati, yang pada dasarnya hati manusia selalu berbolak-balik. Dan syirik khofi ini letaknya ada di dalam hati. Kaum muslimin sekalian, jika nabi saja takut apabila syirik ini menimpa sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini, maka orang-orang sesudah sahabat lebih di khawatirkan akan terjerumus syirik ini. Sungguh sangat aneh jika ada orang yang menyangka dan yakin seratus persen bahwa ia pasti bebas dari riya’. Wal’iyadzubillah.

Riya’ dibagi menjadi dua macam :

Pertama :, riya’ munafik, yaitu riya yang sebagian besar atau seluruh amalnya ditujukan untuk manusia. Hukumnya adalah syirik akbar.

Kedua : riya’ mukmin yaitu orang mukmin yang sebagian kecil amalnya ditujukan untuk manusia hukumnya syirik asghar.

Rosululloh bersabda,” Alloh berfirman yang artinya: “Aku adalah dzat yang tidak memerlukan sekutu, barang siapa yang mengerjakan sesuatu amal yang dicampuri perbuatan syirik dengan-Ku, maka aku tinggalkan dia dan (tidak Aku terima) amal syiriknya itu.” (HR. Muslim)

Bentuk-bentuk riya’

Untuk mencapai tujuannya ahli riya’ menggunakan banyak jalan diantaranya :

a. Dengan tampilan fisik, yaitu seperti menampilkan fisik yang lemah lagi pucat dan suara yang sangat lemah agar dianggap sebagai orang yang sangat takut akhirat, atau rajin berpuasa.

b. Dengan penampilan, yaitu seperti membiarkan bekas sujud di dahi dan berpakaian seadanya agar tampil seperti ahli tasawuf.

c. Dengan perkataan, yaitu seperti banyak memberikan nasihat dan sebagainya.

d. Dengan amal, yaitu seperti mamperlama ruku dan sujud ketika shalat agar tampak khusu’ dan lain-lain.

Amal ibadah yang tercampur perbuatanriya’ hukumnya sebagai berikut :

  1. Apabila pendorong amalnya adalah murni karena riya’ maka ibadah tersebut batal dan berdosa.
  2. Apabila tujuan ibadah untuk Alloh akan tetapi kemasukan riya’ maka ibadah tersebut sah dan berpahala akan tetapi juga berdosa pada amalan riya’ tersebut.
  3. Apabila merasa senang jika dipuji setelah selesai beribadah maka tidak berpengaruh kepada pahala ibadahnya.
  4. Apabila menceritakan ibadah yang telah dikerjakannya denganmaksud mendapat pujian maka bisa menghapus pahala ibadahnya.

Untuk menghilangkan riya’ maka dapat ditempuh cara-cara berikut ini, yaitu :

  1. Memahami macam-macam tauhid dan memurnikan dengan beribadah kepada Alloh atas dasar pemahaman terhadap asma’ dan sifat-Nya.
  2. Meyakini dengan sebenarnya bahwa dirinya hanyalah seorang hamba. Seorang hamba tidak berhak meminta kompensasi dalam pengabdiannya kepada Tuhannya.
  3. Senantiasa memperhatikan nikmat karunia dan taufiq Alloh kepadanya. Semua yang terjadi pada dirinya adalah murni dari Alloh bukanmerupakan daya dan kekuatannya.
  4. Senantiasa ingat terhadap dosa dan kemaksiatannya. Sadar bahwa amalnya sangat sedikit dan tidak bersih.
  5. Takut terhadap murka Alloh.
  6. Mempaerbanyak ibadah secara sembunyi-sembunyi.
  7. Mengngingat kematian, azab kubur dan bencana di hari kiamat.
  8. Memahami riya’ dan celah-celah masuknya riya’.
  9. Ingat dampak jeleknya riya’ di dunia dan akhirat.
  10. Berdoa kepada Alloh agar dibebaskan dari riya’.

cttn : tulisan ini dikutip dari buletin At Tauhid edisi April thn 2006

Posted by: Dost | April 18, 2009

berhias dengan akhlak mulia

Terkadang dalam kehidupan sehari-hari, kita dihadapkan dengan tantangan dan gesekan-gesekan hidup. Gesekan itu bisa datang dari diri kita sendiri atau datang dari orang lain. Tidak jarang kita dihadapkan permasalahan dengan orangtua, sanak famili, teman-teman, dan tentunya juga tak jarang dengan masyarakat sekitar kita. ini amerupakan kodarullah, karena bagamanapun, kita tidak akan punya hati yang satu dan tujuan yang sama. Namun demikian tentunya kita harus mampu menempatkan diri dan bersikap mulia dalam menghadapi permasalahan dan ataupun konflik. Hormat menghormati, tolong menolong dan bersikap tawadu’ terhadap orang lain baik kepada famili maupun kepada masyarakat secara umum. ‘dan rendahkanlah dirimu di hadapan orang-orang yang mengikutimu dari orang-orang yang beriman” QS Asyura 215

Kunci dari kedamaian adalah berbaik sangka dan saling maaf memaafkan. Islam mewajibkan kita untuk senantiasa berakhlak baik kepada sesama. Kita diwajibkan untuk menunaikan hak-hak orang lain. Menebar salam dan senyum, menjawab salam, menjenguk saudara yang sakit, merawat dan mengantarkan jenazah, dan bahkan hak-hak yang kadang sebagian orang melalaikan misal mendoakan seseorang setelah ia bersin itu juga merupakan hak sesama yang harus kita tunaikan. Kita juga diwajibkan untuk saling menyayangi. “Barang siapa tidak menyayangin manusia, ALlah tidak akan menyayanginya” (HR Bukhari, dan Muslim)

Kita mengiinginkan semua orang berbuat baik kepada kita dan menginginkan agar mereka cinta dan sayang. Kita berharap memiliki teman yang memahami kita, memahami keluarga kita, terbuka untuk saling meringankan beban hidup. Alangkah bahagianya kita memiliki teman yang bisa kita ajak menuju segala bentuk kebajikan. Kesadaran bahwa sesama muslim adalah saudara, menjadi dasar kesadaran kita untuk saling kasih mengasihi dan hormat menghormati.

Tentunya kita turut berbahagia dengan berkembangnya budaya saling tegur sapa, melempar senyum dan salam antar sesama. Bahkan di antara yang belum saling kenalpun tindakan tersebut kini sudah menjadi hal yang biasa dilakukan. Saat berpapasan di serambi masjid, di warung makan, di pameran buku, saat antri di SPBU, sudah menjadi hal yang wajar dan luwes untuk kita saling berucap salam. Lingkungan dan kebiasaan baik seperti ini sangat memberi dampak positif bagi kita semua. Kita menjadi terbiasa bersikap ramah dan senantiasa merasa tentram dalam hati. Kebiasaan baik ini melatih kita untuk bersikap bijak dan mengedepankan kekeluargaan dalam menghadapi permasalahan.

Masyarakat luas akan ikut merasakan ketentaraman hidup berdampingan dengan umat muslim. Keramahan dan akhlak baik yang kita kerjakan menjadi satu langkah kongkrit kita dalam menebar rahmat kesegenap alam. “Bertaqwalah di mana saja kamu berada dan susulah perbuatan jelek dengan perbuatan baik niscaya akan menghapuskan perbuatan jelek tersebut dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik” (HR At Tarmizi dari Mu’adz bin Jabal dan Abu Dzar)

ctt : tulisan dikutip (diringkas) dari artikel dg judul yang sama di tabloid AsSyariah halaman 42 dalam bundel edisi 1 – 4.

Posted by: Dost | March 31, 2009

say he is ALlah The Only One

by; Yusuf Islam

Say he is Allah the only one
Say he is Allah the only one
We all need HIM and HE need no one
We all need HIM and HE need no one

HE has no parents, no doughters, no sons
HE has no parents, no doughters, no sons
No body likes HIM and HE likes no one
No body likes HIM and HE likes no one

Say he is Allah the only one

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.