Pembaca sekalian, gerakan hati memang gerakan yang amat sulit diterka ke mana arahnya. Terkadang kita mengira bahwa kita sudah berbuat sebaik-baik dan seikhlas-ikhlasnya, namun indikasi keadaan kita menunjukkan sebaliknya. Seorang yang senantiasa melihat dan mengamati gerakan hati, kemanakah niat hendak ditujukan berarti Alloh telah mengaruniai kepadanya nikmat yang luar biasa. Hal itu karena gerakan hati samar dan kadang bisa menipu pemiliknya.
Kaum muslimin sekalian, di kisahkan ada seseorang yang kebiasaannya selalu shalat berjamaah di shof pertama. Selama tenggang waktu yang lama dia menuyangka dia telah berbuat ikhlas dalam ibadah dan telah manjalankan perintahuntuk berlomba-lomba berada di shof pertama. Namun suatu saat, ia mengerjakan shalat jamaah tidak di shaf pertama. Maka ia merasa malu ketika itu. Yang sangat aneh rasa malu itu timbul terhadap orang-orang di sekitar bukan kepada Alloh swt. Hal tersebut karena ia terbiasa di shaf pertama dan orang-orang menyaksikannya, kemudian baru kali ini ia shalat bukan di shof pertama dan orang-orang pun menyaksikannya. Kaum muslimin sekalian, seharusnya jika memang niatnya lurus, maka ia tidak akan malu kepada manusia, karena shalat dan memilih shof pertama bukanlah ditujukan untuk manusia, tetapi untuk pencipta manusia, Alloh ta’ala. Maka sadarlah sekarang bahwa shalatnya di shaf pertama selama ini bukan karena Alloh semata melainkan karena pandangan orang-orang.
Maka sadarilah, salah satu penyakit hati yang berbahaya adalah riya’. Karena riya’ bukanlah penyakit dzohir yang dideteksi dengan alat kedokteran, namun penyakit yang amat tersamar. Permisalan lain adalah ketika seseorang telah terbiasa beramal memberikan infak / sedekah dan ia telah merasa ikhlas, namun di kemudian hari ia tidak berinfak dan orang-orang melihat lalu ia malu, maka itu adalah salah satu tanda agar orang tersebut harus lebih memperhatikan dan mengatur hatinya.
Hakikat tauhid adalah keikhlasan kepada Alloh ta’ala. Adapun yang menjadi kawan dari ikhlas adalah riya’. Secara tidak sadar seseorang bisa saja melakukan amalan karena ingin diperhatikan orang lain. Padahal hal tersebut adalah kesiasiaan karena amalan tersebut dilakukan karena riya’. Riya’ adalah memperlihatkan amalah agar mendapat pujian, termasuk didalamnya adalah memperdengarkan amalan agar mendapat pujian. Padahal Alloh hanya meneriama satu amalan yang memenuhi dua syarat yaitu ikhlas dan ittiba’ (sesuai tuntunan rosululloh sholallohu ‘alaihi was salam). Kedua sayarat tersebut harus dipenuhi tidak boleh terpisah satu sama lain.
“… barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (al-kahfi 110). Inilah salah salah satu dalil bahwa ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amal. Maka barang siapa yang takut akan hari ia bertemu dengan Alloh dan siapa saja yang sangat mengharapkan rahmat Alloh maka ia harus memurnikan seluruh amal ibadahnya hanya kepada Alloh dan mengikuti tuntunan nabi sholalohu ’alaihi wasalam dalam seluruh ibadah. Alloh juga berfirman yang artinya, “ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus. (al-bayinah : 5)
Suatu ketika Rosululloh berkata kepada para sahabanya,” maukah engkau kuberitahukan tentang suatu yang lebih kuakutkan daripada al masih ad dajjal ? para sahabat menjawab “ya”. Rosululloh bersabda, “itu adalah syirik yang samar. Yaitu seseorang sholat kemudian memperbagus shalatnya karena dilihat orang lain.” (hr.ahmad. dihasankan oleh syaikh al albani)
Di antara kasih sayang beliau kepada umatnya ialah memperingatkan umat ini dari segala bentuk fitnah. Adapun fitnah terbesar sepanjang masa di atas muka bumi ini adalah fitnah dajjal. Akan tetapi fitnah syirik yang samar ini lebih beliau takutkan menimpa umatnya daripada fitnah dajjal. Fitnah dajjal ini akan muncul di akhir zaman kelak ketika kiamat sudah sangat dekat. Hal ini karena memurnikan ibadah hanya karena Alloh swt bukan pekerjaan enteng. Apalagi jika berkenaan dengan hati, yang pada dasarnya hati manusia selalu berbolak-balik. Dan syirik khofi ini letaknya ada di dalam hati. Kaum muslimin sekalian, jika nabi saja takut apabila syirik ini menimpa sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini, maka orang-orang sesudah sahabat lebih di khawatirkan akan terjerumus syirik ini. Sungguh sangat aneh jika ada orang yang menyangka dan yakin seratus persen bahwa ia pasti bebas dari riya’. Wal’iyadzubillah.
Riya’ dibagi menjadi dua macam :
Pertama :, riya’ munafik, yaitu riya yang sebagian besar atau seluruh amalnya ditujukan untuk manusia. Hukumnya adalah syirik akbar.
Kedua : riya’ mukmin yaitu orang mukmin yang sebagian kecil amalnya ditujukan untuk manusia hukumnya syirik asghar.
Rosululloh bersabda,” Alloh berfirman yang artinya: “Aku adalah dzat yang tidak memerlukan sekutu, barang siapa yang mengerjakan sesuatu amal yang dicampuri perbuatan syirik dengan-Ku, maka aku tinggalkan dia dan (tidak Aku terima) amal syiriknya itu.” (HR. Muslim)
Bentuk-bentuk riya’
Untuk mencapai tujuannya ahli riya’ menggunakan banyak jalan diantaranya :
a. Dengan tampilan fisik, yaitu seperti menampilkan fisik yang lemah lagi pucat dan suara yang sangat lemah agar dianggap sebagai orang yang sangat takut akhirat, atau rajin berpuasa.
b. Dengan penampilan, yaitu seperti membiarkan bekas sujud di dahi dan berpakaian seadanya agar tampil seperti ahli tasawuf.
c. Dengan perkataan, yaitu seperti banyak memberikan nasihat dan sebagainya.
d. Dengan amal, yaitu seperti mamperlama ruku dan sujud ketika shalat agar tampak khusu’ dan lain-lain.
Amal ibadah yang tercampur perbuatanriya’ hukumnya sebagai berikut :
- Apabila pendorong amalnya adalah murni karena riya’ maka ibadah tersebut batal dan berdosa.
- Apabila tujuan ibadah untuk Alloh akan tetapi kemasukan riya’ maka ibadah tersebut sah dan berpahala akan tetapi juga berdosa pada amalan riya’ tersebut.
- Apabila merasa senang jika dipuji setelah selesai beribadah maka tidak berpengaruh kepada pahala ibadahnya.
- Apabila menceritakan ibadah yang telah dikerjakannya denganmaksud mendapat pujian maka bisa menghapus pahala ibadahnya.
Untuk menghilangkan riya’ maka dapat ditempuh cara-cara berikut ini, yaitu :
- Memahami macam-macam tauhid dan memurnikan dengan beribadah kepada Alloh atas dasar pemahaman terhadap asma’ dan sifat-Nya.
- Meyakini dengan sebenarnya bahwa dirinya hanyalah seorang hamba. Seorang hamba tidak berhak meminta kompensasi dalam pengabdiannya kepada Tuhannya.
- Senantiasa memperhatikan nikmat karunia dan taufiq Alloh kepadanya. Semua yang terjadi pada dirinya adalah murni dari Alloh bukanmerupakan daya dan kekuatannya.
- Senantiasa ingat terhadap dosa dan kemaksiatannya. Sadar bahwa amalnya sangat sedikit dan tidak bersih.
- Takut terhadap murka Alloh.
- Mempaerbanyak ibadah secara sembunyi-sembunyi.
- Mengngingat kematian, azab kubur dan bencana di hari kiamat.
- Memahami riya’ dan celah-celah masuknya riya’.
- Ingat dampak jeleknya riya’ di dunia dan akhirat.
- Berdoa kepada Alloh agar dibebaskan dari riya’.
cttn : tulisan ini dikutip dari buletin At Tauhid edisi April thn 2006
komentar anda